
Surabaya masih memiliki puluhan ribu warga yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar setiap hari. Meski kota ini berkembang pesat dengan gedung pencakar langit dan pusat perdagangan, realitas kemiskinan tetap tersembunyi di balik kesibukan ekonomi tersebut. Bagi keluarga-keluarga ini, bantuan sosial bukan sekadar tambahan uang saku, melainkan penyelamat kehidupan.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Surabaya kini memiliki arahan jelas untuk periode 2026-2031: memprioritaskan warga miskin, terutama kelompok desil 1 (10 persen keluarga dengan kesejahteraan terendah). Arahan ini disampaikan Wali Kota Eri Cahyadi saat pelantikan pimpinan Baznas di Balai Kota pada 19 Oktober lalu.
Eri Cahyadi menekankan bahwa dana zakat, infak, dan sedekah harus menjangkau “mereka yang paling membutuhkan, bukan warga yang paling mudah mengakses bantuan”. Dia juga mengingatkan pentingnya kemandirian dalam mengelola dana umat dan menolak campur tangan politik atau kepentingan kelompok tertentu.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kemajuan: penduduk miskin Surabaya berkurang dari 105,09 ribu jiwa (3,56 persen) pada Maret 2025 menjadi 97,96 ribu jiwa (3,32 persen) pada Maret 2026. Garis kemiskinan ditetapkan pada Rp852.302 per kapita per bulan. Meski angka menurun, puluhan ribu warga masih hidup di bawah ambang kemiskinan.
Namun angka statistik saja tidak cukup. Kemiskinan bukan hanya soal penghasilan rendah, tetapi juga ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar, mengakses pendidikan dan kesehatan, serta bertahan saat krisis ekonomi melanda. Keluarga yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan tanpa tabungan atau dukungan bisa dengan cepat terpuruk.
Desil 1 menjadi acuan, namun bukan satu-satunya. Kementerian Sosial menjelaskan pengelompokan ini mempertimbangkan karakteristik sosial-ekonomi dan dapat berubah seiring pembaruan data. Setiap keluarga tetap perlu diverifikasi langsung untuk memastikan kondisi pangan, kelayakan rumah, kesehatan, jumlah tanggungan, dan keberlanjutan penghasilan mereka.
Tantangan Surabaya adalah memastikan kelompok-kelompok rentan tidak terlupakan dalam pendataan dan penyaluran bantuan. Penyandang disabilitas, lansia yang tinggal sendiri, keluarga dengan anggota sakit kronis, dan anak-anak terancam putus sekolah memerlukan perhatian khusus. Dengan fokus pada prioritas yang tepat, Baznas diharapkan dapat memperkuat jaring pengaman sosial bagi yang paling membutuhkan.
Sumber: Antara News




