
Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu memperingatkan bahwa negara ini tengah menghadapi empat tekanan besar secara bersamaan — bukan cuma satu masalah yang bisa diselesaikan satu per satu.
Peringatan itu disampaikan Mari Elka dalam acara Memorial Lecture peringatan 100 Tahun Frans Seda di Universitas Atma Jaya, Jakarta Selatan, pada Kamis (1/10/2026). “Kita menghadapi bukan hanya satu guncangan atau satu krisis, atau satu disrupsi. Kita menghadapi empat krisis atau guncangan pada saat yang bersamaan. Satu saja sudah akan membuat kita harus berpikir dalam bagaimana kita harus melakukan respons. Tapi kalau empat pada saat yang bersamaan, apa lagi,” tegasnya.
Guncangan pertama datang dari luar negeri, yakni ketidakpastian ekonomi global yang dipicu kebijakan tarif Amerika Serikat dan perang dagang antara AS dan China. Tekanan kedua berasal dari konflik di Selat Hormuz yang membuat harga minyak dunia melonjak dan sulit diprediksi kapan akan mereda. “Kelihatannya ini akan berkepanjangan. Harga minyak tinggi akan berkepanjangan dengan segala dampaknya termasuk ke fiskal kita,” ujar perwakilan DEN tersebut.
Di dalam negeri, tantangan juga tak kalah berat. Indonesia masih bergulat dengan rendahnya daya saing ekonomi dan ketimpangan pembangunan antardaerah yang belum terselesaikan.
Guncangan keempat menyangkut bonus demografi — kondisi di mana sekitar separuh penduduk Indonesia berada di usia produktif. Ini sebenarnya peluang emas, tapi bisa berbalik jadi bumerang jika lapangan kerja tidak tersedia cukup. “Jadi penciptaan lapangan pekerjaan dengan pendapatan yang layak itu menjadi salah satu tantangan kita, termasuk itu juga menyebabkan berkurangnya middle class kita,” jelas Mari Elka.
Menghadapi empat tekanan sekaligus bukan hal sepele. Pemerintah dinilai perlu merancang respons yang matang dan terkoordinasi agar Indonesia tidak kewalahan di tengah badai yang datang dari berbagai arah sekaligus.
Sumber: Detik Finance




