
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun 11% pada perdagangan Jumat 16 Oktober 2026, setelah MSCI mengumumkan kemungkinan menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Penurunan indeks ini memicu kekhawatiran di kalangan investor.
Meski pasar sedang berguncang, CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi Rosan Roeslani melihat situasi ini dari sudut lain. Menurutnya, ketika valuasi saham-saham perusahaan Indonesia sedang rendah karena koreksi pasar, inilah waktu yang tepat untuk berinvestasi jangka panjang, bukan sekadar trading jangka pendek.
Rosan menekankan bahwa fundamental perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa masih kuat. Sebagai contoh, dia menyebutkan sektor perbankan tetap solid meskipun harga sahamnya berada di bawah satu kali price to book value (PBV)—istilah yang mengukur perbandingan antara harga saham dengan nilai buku perusahaan.
“Kita peganggannya adalah fundamental, jadi oleh sebab itu kita harus tetap melihat ini sebuah opportunity, optimis dan kami meyakini di kami dari Danantara siap masuk karena melihat kembali lagi ini adalah momen yang sangat baik untuk kita berinvestasi ke saham-saham yang ada di Indonesia,” kata Rosan di Gedung BEI, Jakarta.
Rosan juga menjelaskan bahwa penurunan saham selama ini lebih banyak dipicu oleh faktor teknis dan rumor pasar, bukan masalah mendasar dari perusahaan-perusahaan itu sendiri. Oleh karena itu, Danantara memutuskan untuk memasuki pasar modal Indonesia di tengah ketidakpastian ini, dengan strategi investasi jangka panjang yang fokus pada kinerja fundamental perusahaan.
Sumber: Detik Finance




