
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bergabung dengan penyelenggaraan Banyuwangi Batik Festival (BBF) tahun ini untuk memberikan akses layanan keuangan yang lebih luas kepada para perajin dan pengusaha kecil batik lokal. Kerja sama ini memanfaatkan momentum Bulan Inklusi Keuangan (BIK) guna memperkuat ekosistem bisnis batik sekaligus meningkatkan pengetahuan finansial di masyarakat.
Kepala OJK Jember Aris Budiman melihat kolaborasi ini sebagai strategi penting untuk membuka wawasan tentang keuangan dan memberdayakan para pelaku industri kreatif. Ia menekankan bahwa mengembangkan industri batik memerlukan dukungan dari berbagai pihak—mulai dari pengrajin hingga lembaga keuangan. “Proses pembuatan batik membutuhkan kain, pewarna, dan berbagai bahan pendukung. Begitu pula upaya meningkatkan literasi keuangan, membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai OJK, Bank Indonesia, lembaga jasa keuangan hingga pemerintah daerah,” katanya.
Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menambahkan bahwa festival ini telah berkembang menjadi lebih dari sekadar perayaan budaya. Acara tahunan tersebut kini berfungsi sebagai wadah untuk menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat usaha batik lokal dengan melibatkan perajin, pedagang, desainer, dan UMKM setempat.
Mujiono mengharapkan perajin memanfaatkan momentum ini untuk berinovasi tidak hanya dalam menciptakan motif dan desain, tetapi juga dalam strategi pemasaran, termasuk menggunakan layanan keuangan digital guna menjangkau pembeli yang lebih luas.
Festival tahun ini adalah yang ke-14 sejak dimulai pada 2013, diselenggarakan di Gedung Seni Budaya Blambangan pada 6-8 November. Tema tahun ini menampilkan motif Sabuk Mangir Latar Ukel yang mencerminkan nilai-nilai warisan leluhur Banyuwangi dan memperkaya ragam batik lokal yang dikenal publik.
Setiap edisi festival menghadirkan motif berbeda dengan makna filosofis tersendiri, dari Gajah Oling hingga Wader Kesit, semuanya mewakili kekayaan budaya lokal yang ingin dipertahankan dan dipromosikan.
Program festival tahun ini mencakup peragaan busana batik, pameran keuangan, bazar UMKM, talk show literasi keuangan, kompetisi desain batik, dan berbagai aktivitas lainnya yang membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk mereka langsung kepada masyarakat dan wisatawan.
Salah seorang pengusaha batik yang mengikuti festival, Eca, menyatakan bahwa hadirnya motif baru setiap tahun memberikan kesempatan untuk menunjukkan keragaman batik Banyuwangi yang semakin kaya. Dia berharap festival ini terus menumbuhkan cinta masyarakat terhadap batik lokal dan membuat produk Banyuwangi semakin dikenal luas.
Sumber: Detik Finance
Rekomendasi

Tersangka Pengendali Tambang Nikel Ilegal Sultra Dilaporkan Bersembunyi di Luar Negeri

Perusahaan Inggris BlackInk Siap Investasi Rp 1,2 Triliun di Pulogadung

OJK Tindak Tegas Tujuh Emiten dengan Denda hingga Rp 2,7 Miliar

