
Indonesia memiliki posisi kuat sebagai pemasok batu bara terbesar dunia, tetapi keuntungan dari dominasi tersebut tidak sebanding. Tahun lalu, negara ini memasok 540 juta ton batu bara atau 43 persen dari total perdagangan global, namun harga komoditas justru terus merosot ke level terendah karena pasokan yang berlebihan.
Untuk mengubah situasi ini, pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menerapkan strategi pembatasan produksi melalui mekanisme Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Langkah ini dirancang untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan sehingga harga tetap stabil dan kompetitif di pasar internasional.
Bahlil menjelaskan rasionalitas di balik kebijakan ini dengan perumpamaan sederhana: “Jadi produksinya terkoreksi, turun, tapi pendapatannya naik. Ini baru paten. Nggak dijual murah barang kita.” Strategi ini menunjukkan bahwa mengurangi volume produksi tidak selalu merugikan—justru bisa meningkatkan pendapatan ketika harga lebih terjaga.
Menurut Bahlil, pembukaan lahan pertambangan yang tidak terkoordinasi di masa lalu menjadi penyebab utama murahnya harga batu bara lokal. Pemerintah sebelumnya pernah mencoba menaikkan harga acuan, tetapi pasar tidak merespons dengan baik. Oleh karena itu, pendekatan supply control dianggap lebih efektif dalam jangka panjang.
Jumlah perusahaan yang mengajukan RKAB meningkat dari 500 pada 2025 menjadi 650 pada 2026. Bahlil menekankan pentingnya kedisiplinan industri agar tidak saling memperlombakan produksi ketika harga sedang menurun, meskipun ia memahami dorongan setiap pengusaha untuk memaksimalkan keuntungan.
Hasil nyata dari strategi ini sudah terlihat dalam penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor minerba. Pada 2025, PNBP berada di rentang Rp130-135 triliun, kemudian menembus Rp141 triliun per 1 Oktober 2026, dan diproyeksikan akan mencapai Rp160-165 triliun pada akhir tahun.
Melalui pengendalian produksi yang terukur, pemerintah berharap dapat menjaga nilai aset mineral Indonesia agar tetap menguntungkan untuk generasi saat ini sekaligus menjaga cadangan alam yang tersisa untuk masa depan.
Sumber: Detik Finance
Rekomendasi

Tersangka Pengendali Tambang Nikel Ilegal Sultra Dilaporkan Bersembunyi di Luar Negeri

Perusahaan Inggris BlackInk Siap Investasi Rp 1,2 Triliun di Pulogadung

OJK Kolaborasi dengan Banyuwangi Batik Festival untuk Buka Akses Keuangan bagi Perajin

