Rupiah Tembus Rp 17.900 per Dolar AS, IHSG Anjlok Hampir 7% Sepanjang September

Rupiah Tembus Rp 17.900 per Dolar AS, IHSG Anjlok Hampir 7% Sepanjang September

Kondisi pasar keuangan Indonesia pada September 2026 boleh dibilang cukup berat. Rupiah melemah tajam hingga menyentuh level Rp 17.941 per dolar AS, sementara indeks saham gabungan (IHSG) jatuh hampir 7% hanya dalam satu bulan.

IHSG ditutup di posisi 6.071,14 pada akhir September, turun 6,96% dibanding bulan sebelumnya. Salah satu pemicu utamanya adalah investor asing yang ramai-ramai menarik dananya dari pasar saham Indonesia — total penarikan bersih atau net sell mencapai Rp 10,24 triliun. Ini berbalik drastis dari Agustus, saat investor asing justru masuk dengan net buy sebesar Rp 1,19 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, mengonfirmasi angka tersebut secara langsung. “Investor asing membukukan net sell di pasar saham senilai Rp 10,24 triliun, sementara di bulan Agustus 2026 lalu tercatat net buy investor asing sebesar Rp 1,19 triliun,” kata Hasan dalam konferensi pers virtual, Senin (5/10/2026).

Tekanan tidak hanya di pasar saham. Pasar obligasi pun ikut tertekan — indeks obligasi komposit Indonesia (ICBI) turun 0,23% secara bulanan ke level 439,05. Investor asing juga menarik dana dari Surat Berharga Negara (SBN), meski jumlahnya relatif kecil, yakni sekitar Rp 340 miliar. Nilai reksa dana nasional pun menyusut 2,42% menjadi Rp 637,07 triliun.

Di sisi nilai tukar, rupiah melemah 7,74% sepanjang tahun 2026 berjalan. Dolar Singapura bahkan sudah hampir menembus Rp 14.000, tepatnya berada di Rp 13.997 pada perdagangan Senin siang. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS dipicu oleh kondisi fiskal Amerika yang defisit dan rencana penerbitan surat utang baru dengan bunga lebih tinggi. “Ketika DXY, indeks dollar menguat, kira-kira mata uang lain? Melemah,” ujar Erwin.

Meski situasinya cukup mengkhawatirkan, OJK menilai likuiditas pasar modal domestik masih terjaga — ditandai dengan selisih harga beli-jual saham yang relatif stabil di kisaran 1,2%. Pertanyaannya kini, seberapa lama daya tahan pasar lokal bisa bertahan di tengah tekanan global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Sumber: Detik Finance

Rekomendasi

Scroll to Top