Singapura Panggil 8 Bos Sawit Indonesia, Pemerintah Lihat Sisi Positif

Singapura Panggil 8 Bos Sawit Indonesia, Pemerintah Lihat Sisi Positif

Pemerintah Singapura baru-baru ini memanggil delapan pemimpin perusahaan perkebunan kelapa sawit terkemuka Indonesia untuk membahas masalah kebakaran hutan dan lahan yang menghasilkan kabut asap lintas negara. Langkah tegas negara tetangga ini mendapat sambutan positif dari pihak Indonesia, khususnya dari menteri investasi.

Menteri Investasi Rosan Roeslani mengatakan bahwa tindakan Singapura harus dipandang sebagai upaya konstruktif untuk menyelesaikan masalah bersama. “Kalau kita melihatnya ini kan untuk satu hal yang positif ya semuanya, kepentingan yang sama untuk supaya hal-hal seperti karhutla dan yang lain bisa terselesaikan dengan baik, menurut saya seperti itu saja,” ungkapnya seusai acara Rapat Pimpinan Nasional Kadin Indonesia di Jakarta.

Rosan menekankan bahwa hubungan investasi antara Indonesia dan Singapura tetap stabil meski ada dialog intensif seputar lingkungan. Ia telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Singapura untuk menegaskan komitmen membuka peluang investasi lebih luas dan memperkuat kerja sama bilateral di berbagai sektor.

Pertemuan dengan 8 perusahaan sawit besar—termasuk Bumitama Agri, Golden Agri-Resources, Wilmar International, dan Sinar Mas Group—berlangsung singkat dan melibatkan tiga menteri Singapura serta pejabat senior dari berbagai kementerian dan badan hukum. Para pemimpin perusahaan tersebut berkomitmen untuk bekerja sama penuh dalam penyelidikan yang dilakukan Singapura.

Singapura juga merencanakan perubahan undang-undang untuk memperkuat dampak hukum terhadap perusahaan yang tidak berkooperasi. “Saya akan mengajukan amendemen terhadap Undang-Undang Polusi Kabut Asap Lintas Batas pada sidang parlemen berikutnya untuk memberikan kekuatan hukum pada kerangka kerja ini. Perusahaan yang tidak mematuhi ketentuan tersebut akan dianggap melakukan pelanggaran,” jelas Grace Fu, Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura. Dialog bilateral ini menunjukkan upaya serius kedua negara untuk mengatasi krisis lingkungan yang berdampak regional.

Sumber: Detik Finance

Rekomendasi

Scroll to Top